(Colongan) Project 120 Hari

Aku  sedang menggarap project. Aku dan 3 temanku, lebih tepatnya. Kami memberi nama Project 120 hari. Ada kepanjangannya sebenarnya, tapi aku tidak akan memberitahu apa kepanjangannya. Mengapa? Karena akan sangat berpotensi menjadi bahan olok-olokan atau minimalnya orang akan menertawakannya atau bisa jadi malah prihatin. Tidak percaya? sudah terbukti. Teman ku, teman kerja, teman main, teman banyak hal (yang jelas bukan teman hidup hehehe) sudah mengolok-olok nya.

“120 hari, udah kayak SKBDN aja, jaminan uang muka tender”

Menyebalkan bukan? Tapi aku malah ikutan tertawa. Benar juga apa yang dia katakana. Tapi aku tidak perduli. Toh aku sudah “tandatangan” dan menyatakan ikut serta dalam project tersebut.

Aku sebenarnya sedang membuat tulisan tentang bagaiman project ini lahir dan berjalan sampai nanti berakhir , namun masih berantakan, aku berniat menjadikan diary dari project tersebut. Sampai saat ini belum selesai karena project tersebut memang masih berjalan dan belum tahu bagaimana ujungnya. Maka dari itu, aku yang tidak sabaran dan latah ini malah nyuk-nyuk-an bikin tulisan ini.

Tidak terasa hari ini sudah hari ke 49 dalam hitungan mundur dari project tersebut. Waktu yang tidak lagi banyak namun juga tidak sedikit untuk berbuat. Rasanya baru kemarin aku dan teman-teman bersepakat untuk membuat project ini. Rasa yang sungguh tidak karuan mengacau hari-hari ku yang memang sudah kacau. Baru bangun tidur aku sudah kepikiran apa yang akan kulakukan? Apa yang akan saya dapatkan hari ini hingga kemabali harus menyudahi hari ini dengan mencoret satu angka pada kalender dengan rasa sakit dan mata kembeng-kembeng. Hanjirrr.

Jujur, ini hal baru yang cukup menyiksa (kepar*t memang!), ditambah intensitas komunikasi kita melalui group chat di WA yang nggatheli itu. Setiap hari ada saja update, ada saja cerita. Saling mengingatkan, saling mendukung, saling menguatkan. Iya itu yang kami lakukan, kami saling-saling karena kami memang harus kuat menjalani project ini. Hari ini dua orang menangis, besok satu orang tertawa, besoknya satu orang putus asa, besoknya lagi hampir semua menyerah, besok-besoknya lagi kita semua menangis atau tertawa atau menangis sambil tertawa, atau tertawa kemudian menangis atau mengis dulu lalu tertawa, atau tertawa sambil menangis. Hasembuh. Pokoknya nggak karuan, isinya cuma nangis dan tertawa.

Sebenarnya apa sih project kita itu? Ini project apa belajar gila?

Baiklah. Aku kasih bocoran, project kita ini adalah project yang sangat dekat dengan hati dan perasaan. Rentan terhadap serangan galau, mbingungi dan hal-hal sejenisnya. Aku sendiri sudah sangat sering menangangi project, tapi itu project yang berhubungan dengan profesi saya, kerjaan saya dan rasanya tidaklah sama dengan project fiktif (biarlah aku menyebutnya demikian) yang aku ikuti kali ini. Project dalam pekerjaan sangat mudah diatur. Semua nyata, aku hanya tinggal mengatur pergerakan. Ada barang, ada dana, ada tenaga kerja. Semua tinggal diatur sedemikian rupa, kelar. Ada masalah? Cari masalahnya, selesaikan. Beres!. Lha kalo masalahnya sudah bawa-bawa perasaan, piye jal? Terlebih ini bawa-bawa perasaan orang yang ndak bisa kita paksa-paksa mengikuti kemauan kita begitu saja.Ck.

Blunder sudah pasti ada. Bahkan, di hari ke 111 hitungan mundur aku memutuskan untuk “patah hati”. Aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku yang terbiasa mengenyampingkan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan  kembali dengan logika hingga aku sering di juluki “tidak punya perasaan” merasa apa yang aku lakukan ini berlawanan dengan cara berfikir dan berpendapat. Aku sudah menganggap ini semua mengganggu kewaran ku.  Saat itu aku berfikir “patah hati” adalah cara terbaik, setidaknya aku lebih tahu bagaimana cara merawat luka daripada menceburkan diri dalam ketidakpastian tanpa perbuatan, nggilani bukan?. Saat itu aku berpikir “biarlah aku patah hati seperti ini hingga waktu yang ditentukan habis, dan semua selesai”. Namun apa daya, di hari ke 110, 1 hari kemudian, aku kembali “jatuh cinta”. A****!.   

Apa yang kamu tuntut dari sebuah kepastian? sedangkan kamu tahu satu-satu nya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.

Kata-kata diatas cukup membuat ku kembali berfikir. Ketika aku belum berusaha, mengapa saya bilang saya tidak bisa? Mengapa harus takut gelisah? Bukankan kegelisahan itu yang selalu membuat bergerak? Perasan tidak baik-baik saja itu kan yang selalu mendukung untuk berbuat. Jika kini aku berada di jalur yang berbeda, itu berarti aku harus belajar lebih banyak lagi. Namun, jauh dari itu semua, ada yang membuncah dari dalam dada, ada yang memanggil meminta teman, ada yang berontak didiamkan sendiri. “Pengecut! Jangan terus bersembunya. Jujurlah dengan perasaanmu sendiri!”. Kemudian dia menunjukkmu tanpa alasan. Keparat memang. Dasar perasaan tidak tahu diri!.

Selanjutnya, atas nama ego, keyakinan, perasaan, komitmen dan hal-hal absurd lainnya, aku kembali melanjutkan semuanya sampai dengan hari ini. Aku dan juga teman-teman saya tidak akan tahu bagiamana akhir semua ini nanti nya. Meski kami sebenarnya sudah hampir dapat menebak, tapi kami pantang menyerah, kami “membunuh” semua “kambing hitam” yang muncul, kami selalu bilang “sedang berusaha dan terus berdoa”. Sedang kami semua sama-sama tahu kondisi masing-masing hampir pada titik terlemah sejak hari itu. Group di WA mulai sepi. Kisah-kisah sendu mulai mendominasi sampai akhirnya kami memutuskan untuk sama-sama diam. Diam-diam saling mendoakan, diam-diam saling menguatkan dan diam-diam tak mau menyerah. Sebab kami tahu, kami hanya butuh optimisme, kami hanya butuh dukungan dari diri masing masing untuk menjaga mimpi ini tetap menyala hangat. Sebab kami semua tahu dengan begitu kami masih punya energy positif untuk terus berjuang. Hingga menjadi kenyataan. Aamiin.

Sekarang sudah tahu bagaimana bentuk project ini kan? Sudah tercermin dari tulisan saya yang ndak nggenah ini.

Advertisements

Kopi, Teman.

Di kantor ini, khusunya di divisi ku, hanya aku yang suka kopi hitam.
Kopi hitam yang aku maksud adalah kopi bubuk tanpa campuran creamer atau yang dikemas dalam sachet seperti yang di minum kebanyakan orang di tempatku.

Aneh, bahkan mbah dukun adalah sebutan yang diberikan teman-teman ku karena kebiasaanku yang meminum kopi tersebut. Terlebih, mereka melihatku menyeduh kopi tanpa gula. Aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku menyukainya. Meski tanpa teman. Hingga suatu hari, aku kedatangan teman baru, orang baru di team kami. Dia ternyata penyuka kopi sepertiku juga. Kabar baik bagiku. Kami bisa bertukar kopi. Dan, ternyata dia juga menyukai lagu-lagu yang aku sukai. Tosss!!

“Menyeduh kopi itu urusan laki-laki, bukan perempuan”, kataku suatu hari mengutip kata-kata seseorang dalam bukunya.

Mamang (begitu dia menamakan diri) yang sangat sensitif jika ke-lelakian-nya di usik kemudian dengan sukarela menyeduhkan aku secangkir kopi, dengan cangkirku, cangkir kesayanganku.

Enak. takarannya pas. aku menyukainya.
Semenjak hari itu, setiap pagi, aku akan menerima secangkir kopi seduhan Mamang tanpa aku minta. Menyenangkan bukan?

Hingga di suatu hari yang lainnya, Mamang jatuh hati pada seorang gadis manis. Orang baru di perusahaan kami. Seorang gadis penyuka kopi juga. Dengan gula yang banyak tentunya. Akhh semua orang memang memiliki kesukaan masing-masing buka? tapi bukan itu masalahnya, bukan juga karena Mamang dengan diam-diam memberikan kopi koleksi kami berdua kepadanya. Itu sama sekali bukan masalah.

Aku mulai merasa kopi seduhan Mamang berubah rasanya, tidak sama yang aku rasa di hari-hari sebelumnya. Hal ini jelas membuat aku kurang suka. Aku protes kepadanya. Alasanya takarannya lah, air nya lah, salah memilih kopi lah. Aku kesal. Jelas. Sesaat aku berfikir, ada apa dengan Mamang? bukankah semua yang di buat orang yang sedang jatuh cinta selalu lebih maksimal hasilnya? karena dia akan menggunakan seluruh perasaannya untuk membuat sesuatu itu. Nyatanya tak demikian. Mungkin aku yang salah atas teori tersebut. Tapi, terkahir aku sadari bahwa Mamang masih menggunakah sepenuh cintanya untuk menyeduh kopi, tapi sayang kopi itu bukan lagi untukku. Untuk gadis nya. Gadis yang kini membuat kopi nya manis tanpa gula sekalipun. Aku memang tidak pernah mengkonfirmasi hal ini kepada Mamang, tidak perlu. Maaf ya Mang, kalo aku berprasangka demikian.

Mulai saat itu, aku kembali menyeduh kopi ku sendiri, seperti dahulu lagi. Menikmati sendiri lagi, apapun hasilnya. Tidak, aku tidak pernah marah atau berselisih dengan Mamang, aku hanya berfikir bahwa Mamang sudah menemukan teman dan kopi yang yang tepat. Aku? belum. Tidak mengapa, mungkin suatu saat nanti. Toh, aku masih bisa bercerita tentang kopi dan/atau koleksi kopi dengan Mamang atau teman lain yang ternyata berhasil aku “racuni” untuk minum kopi hitam, pahit, tanpa gula. Aku juga masih bisa berbagi cerita tentang musik kesukaan kami atau apapun juga yang kita mau bagi tapi tentunya tidak berbagi cinta dengan gadis manis nya itu hehehehe.

Kopi, teman. Bagiku, mereka sama-sama menyenangkan. selalu memberi warna lain dan berubah-ubah. Kopi yang pahit tidak pernah membuatku kapok, kopi yang asam tidak pernah membuatku kesal. Aku menikmatinya. Nikmati dari sisi manapun yang bisa dinikmati.

Mari ngopi dan mari berteman. Mari berteman dan mari ngopi.