Kopi, Teman.

Di kantor ini, khusunya di divisi ku, hanya aku yang suka kopi hitam.
Kopi hitam yang aku maksud adalah kopi bubuk tanpa campuran creamer atau yang dikemas dalam sachet seperti yang di minum kebanyakan orang di tempatku.

Aneh, bahkan mbah dukun adalah sebutan yang diberikan teman-teman ku karena kebiasaanku yang meminum kopi tersebut. Terlebih, mereka melihatku menyeduh kopi tanpa gula. Aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku menyukainya. Meski tanpa teman. Hingga suatu hari, aku kedatangan teman baru, orang baru di team kami. Dia ternyata penyuka kopi sepertiku juga. Kabar baik bagiku. Kami bisa bertukar kopi. Dan, ternyata dia juga menyukai lagu-lagu yang aku sukai. Tosss!!

“Menyeduh kopi itu urusan laki-laki, bukan perempuan”, kataku suatu hari mengutip kata-kata seseorang dalam bukunya.

Mamang (begitu dia menamakan diri) yang sangat sensitif jika ke-lelakian-nya di usik kemudian dengan sukarela menyeduhkan aku secangkir kopi, dengan cangkirku, cangkir kesayanganku.

Enak. takarannya pas. aku menyukainya.
Semenjak hari itu, setiap pagi, aku akan menerima secangkir kopi seduhan Mamang tanpa aku minta. Menyenangkan bukan?

Hingga di suatu hari yang lainnya, Mamang jatuh hati pada seorang gadis manis. Orang baru di perusahaan kami. Seorang gadis penyuka kopi juga. Dengan gula yang banyak tentunya. Akhh semua orang memang memiliki kesukaan masing-masing buka? tapi bukan itu masalahnya, bukan juga karena Mamang dengan diam-diam memberikan kopi koleksi kami berdua kepadanya. Itu sama sekali bukan masalah.

Aku mulai merasa kopi seduhan Mamang berubah rasanya, tidak sama yang aku rasa di hari-hari sebelumnya. Hal ini jelas membuat aku kurang suka. Aku protes kepadanya. Alasanya takarannya lah, air nya lah, salah memilih kopi lah. Aku kesal. Jelas. Sesaat aku berfikir, ada apa dengan Mamang? bukankah semua yang di buat orang yang sedang jatuh cinta selalu lebih maksimal hasilnya? karena dia akan menggunakan seluruh perasaannya untuk membuat sesuatu itu. Nyatanya tak demikian. Mungkin aku yang salah atas teori tersebut. Tapi, terkahir aku sadari bahwa Mamang masih menggunakah sepenuh cintanya untuk menyeduh kopi, tapi sayang kopi itu bukan lagi untukku. Untuk gadis nya. Gadis yang kini membuat kopi nya manis tanpa gula sekalipun. Aku memang tidak pernah mengkonfirmasi hal ini kepada Mamang, tidak perlu. Maaf ya Mang, kalo aku berprasangka demikian.

Mulai saat itu, aku kembali menyeduh kopi ku sendiri, seperti dahulu lagi. Menikmati sendiri lagi, apapun hasilnya. Tidak, aku tidak pernah marah atau berselisih dengan Mamang, aku hanya berfikir bahwa Mamang sudah menemukan teman dan kopi yang yang tepat. Aku? belum. Tidak mengapa, mungkin suatu saat nanti. Toh, aku masih bisa bercerita tentang kopi dan/atau koleksi kopi dengan Mamang atau teman lain yang ternyata berhasil aku “racuni” untuk minum kopi hitam, pahit, tanpa gula. Aku juga masih bisa berbagi cerita tentang musik kesukaan kami atau apapun juga yang kita mau bagi tapi tentunya tidak berbagi cinta dengan gadis manis nya itu hehehehe.

Kopi, teman. Bagiku, mereka sama-sama menyenangkan. selalu memberi warna lain dan berubah-ubah. Kopi yang pahit tidak pernah membuatku kapok, kopi yang asam tidak pernah membuatku kesal. Aku menikmatinya. Nikmati dari sisi manapun yang bisa dinikmati.

Mari ngopi dan mari berteman. Mari berteman dan mari ngopi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s